mahorahora-gula-aren

Gula Aren Menguak Pasar – Trubus

TRUBUS — Konsumen mancanegara menggandrungi gula aren organik. Pasar domestik tetap potensial.

Dari pelosok Desa Hariang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, gula aren itu mengisi pasar ekspor. Produsennya Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mitra Mandala yang menghasilkan rata-rata 20 ton gula semut berbahan nira aren setiap bulan. Menurut Manajer Pemasaran KUB Mitra Mandala, Buhori, volume ekspor mencapai 7—10 ton per bulan. Volume itu terus tumbuh.

Mitra Manda mengekspor perdana ke Korea Selatan pada 2018 hanya 2—7 ton per bulan. Saat ini negara tujuan ekspor meluas ke Australia, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa. “Barulah sejak 2020 kontrak ekspor ke Korea Selatan selama 5 tahun,” kata Buhori. Menurut Buhori salah satu kelebihan ekspor nilai jual produk lebih tinggi. Harga gula semut aren organik di dalam negeri Rp50.000—Rp100.000 per kilogram. Jika mengisi pasar ekspor harga bisa 2—3 kali lipat.

Potensi besar

Potensi nira aren 30—40 liter
per tanaman.

Gula semut aren itu berasal dari 148 orang anggota KUB Mitra Mandala. Mereka mengelola lahan 172 hektare. Pada umumnya aren tumbuh alami di lahan itu. Oleh karena itu, jarak tanam tidak beraturan. Meski demikian, Buhori memperkirakan populasi mencapai 45 tanaman per ha. Para petani menyadap bunga aren menjadi nira. Mereka mengolah nira menjadi gula cetak, gula cair, dan gula semut untuk mengisi pasar ekspor.

Menurut peneliti di Program Studi Agroteknologi, Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Dedi Natawijaya dan rekan, randemen nira aren untuk membuat gula cetak rata-rata 14,13%. Artinya 1 kilogram gula cetak berasal dari 7 liter aren. Adapun untuk memproduksi gula semut rendemen 13,07%. Buhori memerlukan 7,6 liter nira aren memproduksi 1 kg gula semut. Kadar air gula cetak rata-rata 3,5% dan gula semut rata-rata 2,2%.

Menurut Natawijaya hasil nira per pohon berbeda di berbagai daerah di Indonesia. Rentangannya 7—40 liter pohon. Namun, rata-rata petani pelaku industri panen nira aren 20—30 liter per pohon. Panen nira aren bisa pada bunga jantan dan betina. Namun, lazimnya kuantitas dan kualitas nira dari bunga jantan lebih optimal dibandingkan dengan bunga betina.

Buhori mengatakan, sekitar 80% produksi gula semut, sisanya dalam bentuk gula cair dan gula cetak. Permintaan ekspor dominan gula semut dan gula cair. Mengolah menjadi gula semut dan gula cair lebih awet, ketahanan hingga setahun. Sementara itu gula cetak mudah meleleh jika suhu panas, daya tahan sekitar 2 bulan. Pembeli di mancanegara mensyaratkan gula semut berwarna cokelat, kadar air 2%, dan kemurnian 100%.

Selain itu syarat mutlak adalah memiliki sertifikasi organik. Para petani aren anggota Mitra Mandala mengantongi sertifikat organik internasional dari Icert International sejak 2014. Gula aren kerap menjadi komoditas pelengkap kopi atau teh dan penganan lain. Mitra Mandala mampu membuka pasar ekspor setelah beberapa kali mengikuti pameran di mancanegara. “Saat pandemi bisa juga mengikuti pameran secara daring atau online,” kata juara kedua wirausaha muda syariah 2020 itu.

Petani memanaskan nira aren untuk memanen gula setengah jadi.

Menurut Buhori pasar ekspor gula aren masih potensial. Data Euromonitor menunjukkan pangsa pasar produk organik cukup besar terdapat di beberapa negara seperti Tiongkok (US$3,6 miliar), Amerika Serikat (US$18,5 miliar), India (US$63,4 juta), dan Jerman (US$4,6 miliar). Mitra Mandala juga mamasok pasar domestik hingga 5 ton per bulan. Konsumen gula semut aren organik antara lain retail, pabrik camilan, dan pabrik minuman.

Pasar domestik

Di Jakarta Selatan, Slamet Sudjiono dan Nonda Muldani juga memasok pasar aren organik. Sejak Mei 2020 keduanya mendirikan CV Mahorahora Bumi Nusantara. Menurut Nonda Muldani kebutuhan gula di Indonesia setiap tahun sekitar 7 juta ton (sebagian besar gula putih). Produksi lokal hanya memenuhi sekitar 50—60%, sisanya masih impor. Slamet Sudjiono melihat potensi gula aren untuk mengisi ceruk pasar gula itu.

“Gula aren terbukti disenangi masyarakat Indonesia selama ratusan tahun,” kata Nonda. Pemicu lainnya tren konsumsi kopi dan gula aren yang naik daun 2—3 tahun terakhir. Menurut Slamet Mahorahora masih membidik pangsa pasar domestik. Pasokan ke hotel, restoran, kafe (horeka), retail secara daring, dan pasar swalayan. Varian produk berupa gula semut aren dan gula cair aren organik.

Gula aren dan cair kerap diminati sebagai pemanis kopi dan teh.

Harga jual gula semut organik Rp50.000 per kemasan 1 kilogram, Rp35.000 (500 gram), Rp25.000 (250 gram). Adapun harga gula cair organik Rp50.000 untuk kemasan 1 liter, Rp28.000 (350 mililiter), dan Rp20.000 (150 mililiter). “Dari awal berdiri sudah terjual sekitar 3.000 produk dengan lebih dari 1.500 pelanggan baik daring maupun luring,” kata Slamet. Menurut Slamet kapasitas produksi sekitar 20 ton aren saban bulan.

Slamet memperoleh pasokan gula aren dari 144 petani tersebar di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Para petani mengelola lahan 90 hektare. Para petani mengantongi sertifikat organik dari Icert International. Slamet memangkas tata niaga gula aren dari petani ke konsumen sekaligus memberikan bantuan dari segi edukasi dan sarana. Selama ini petani lazim memasok barang setengah jadi.

Chief Executive Officer CV Mahorahora Bumi Nusantara, Slamet Sudjiono.(foto : Dok. Mahorahora)

 

 

 

 

 

 

 

Mereka memanaskan hasil sadapan lahang atau nira aren hingga mendidih. Gula hasil pemanasan itulah yang kerap disetor kepada produsen. Barulah produsen mengolah menjadi gula semut dan gula cair. Namun, Slamet mengedukasi para petani agar mengolah nira hingga menjadi gula semut. Tujuannya agar petani juga mendapatkan nilai tambah dari penjualan produk. Harap mafhum harga jual gula semut lebih tinggi daripada gula cetak.

Potensi gula semut asal aren sejatinya cukup besar. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Indonesia luasan areal penanaman aren mencapai 60.000 hektare, jika per hektare rata-rata 100 pohon Indonesia memiliki 6 juta pohon aren produktif yang tersebar di berbagai sentra seperti Provinsi Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua. Badan Litbang Pertanian mencatat, produksi gula aren di Indonesia rata-rata mencapai 30.376 ton per tahun. Sayang belum ada pemilahan gula aren organik dan nonorganik.

Peneliti di Program Studi Agroteknologi, Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Dedi Natawijaya mengatakan, pada umumnya Arenga pinnata tumbuh alami di lahan penduduk. Para petani hampir tidak pernah memupuk anorganik. Meski demikian petani tetap memerlukan sertifikat jika hendak berniaga produk organik. Menurut coach untuk komoditas gula aren dan gula kelapa dari Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, Roesfitawati, gula aren salah satu komoditas ekspor yang berkaitan erat dengan kopi dan teh. Ekspor kopi dan teh bisa mengerek permintaan gula aren dan gula kelapa.

Menjual komoditas dalam bentuk organik meningkatkan nilai jual produk. Menurut Roesfitawati kelebihan gula aren organik produksi Indonesia secara kualitas sudah disenangi konsumen mancanegara. Namun, bisa ditingkatakan lagi agar nilai lebih optimal. Di antaranya pengemasan produk menjadi lebih menarik dan mendaftarkan merek atau produk baik nasional atau internasional.

“Banyak juga yang mengekspor curah ke mancanegara, pengemasan dilakukan oleh pembeli,” katanya. Padahal, mengekspor dalam bentuk kemasan nilainya bisa naik hingga 10 kali lipat. Menurut Roesfitawati kerap kali produsen abai dengan tengat sertifikat organik. Imbasnya, nilai jual produk rendah dan tidak diakui sebagai produk organik. (Muhamad Fajar Ramadhan/Peliput: Nadya Muliandari)

Artikel ini telah terbit di Trubus.id dengan judul “Gula Aren Menguak Pasar
Penulis Muhamad Fajar Ramadhan/Peliput: Nadya Muliandari

id_IDIndonesian